No
Crosslining!!!
Pada intinya, berbagi ilmu, bergaul, tidaklah
terlalu menjadi masalah dalam crosslining. Yang akan menjadi masalah besar
adalah ketika crosslining itu sudah masuk dalam koridor konsultasi.
Seperti yang pernah saya sebutkan, konsultasi
tidak dapat dilakukan kepada crossline kita. Pertama, crossline tidak memiliki
kepentingan dengan bisnis kita. Kedua, crossline tidak akan mengetahui
karakteristik jaringan kita seperti halnya upline kita. Oleh karena itu
konsultasi kepada crossline sangat dilarang dalam network marketing, karena
akan membahayakan jaringan masing-masing.
Bentuk crosslining yang paling berbahaya adalah
ketika para crossliner membahas hal-hal yang negatif. Contoh: “Eh, upline saya
kurang memperhatikan jaringan saya ya..? Kalau ke kamu bagaimana..?” Sang
crossline lalu menjawab: “Wah, sama euy, kurang memperhatikan juga. Kayaknya
kita ini salah punya upline. Bagaimana kalau kita pindah saja ke grup Bapak
Anu?” Akhirnya, bisnis kedua orang crossline tersebut hancur. Karena jika itu
dilakukan maka akan ditiru oleh anak keturunan jaringannya mereka yang melakukan
itu, sehingga bangunan kerajaan bisnisnya tidak akan pernah kuat dan stabil
karena meniru apa yang dia lakukan yaitu berpecah belah.
Dalam berbagi ilmu juga kita harus bisa membatasi
diri sampai sejauh mana kita dapat menerapkan ilmu dari crossline. “Jangan
ambil konsultasi dari atas panggung.” Artinya, jangan mengambil mentah-mentah
ilmu yang didapat dari siapa pun. Konsultasikan kembali dengan garis
sponsorisasi kita. Dan itu adalah mutlak.
Kadang karena kita merasa kagum dengan materi yang
diberikan oleh seseorang, terlebih jika itu adalah crossline kita, maka tidak
ayal lagi timbul perasaan ingin bertanya berkonsultasi dengan crossline
tersebut. Kalau secara pribadi bertanya mungkin tidak terlalu bermasalah,
tetapi ketika seluruh jaringan di bawah kita kemudian juga turut berkonsultasi,
maka siapa yang bisa menjamin jaringan kita telah masuk ke koridor crosslining?
Akibat crosslining, harga mahal harus dibayar oleh
sebagian jaringan bisnis di Tianshi. Fenomena perpecahan support system adalah
bukti nyata dari crosslining tersebut. Saya sendiri pernah mengalaminya ketika
kami sedang mengadakan home sharing, tiba-tiba kami didatangi salah satu
crossline kami yang menjelek-jelekan upline kami, tetapi dia memuji-muji
crosslinenya. Sejujurnya kami sempat terpengaruh, tetapi untung kami segera
berjalan kembali di trek yang benar.
Fakta hari ini, orang-orang yang kemarin
jelas-jelas melakukan crosslining perkembangan bisnisnya juga tidak
kemana-mana. Justru crossline-nya yang selama ini dipuji-puji yang mendapatkan
keuntungan sebagai akibat dari crosslining tersebut. Menggelikan memang, ketika
orang tersebut malah mengkonsultasikan jaringannya kepada crossline, bukan
kepada uplinenya.
Kalau menurut saya, crosslining yang paling besar
dosanya adalah: ghibah & fitnah. Menjelek-jelekan orang lain (ngomongkeun),
sirik, membuat gosip tidak baik dengan orang lain, dapat dikategorikan ghibah.
Akibatnya sangat fatal. Apalagi fitnah. Mitra senior saya pernah difitnah
menyelewengkan dana support system, saya pribadi juga pernah difitnah. Ghibah
dan fitnah, bukan hanya berbahaya dalam konteks crosslining, tetapi memang hal
itu juga berbahaya dalam kehidupan sehari-hari kita.
Untuk anda yang merasa kehilangan upline, karena
mungkin upline jauh dari kota anda, atau upline anda sudah tidak pada aktif,
dan upline terdekat ternyata sudah tinggi sekali peringkatnya sehingga sibuk
sekali. Maka langkah terbaik adalah belajar dari crossline, bagaimana mereka
mengembangkan jaringan, mendengarkan kaset yang disediakan support system.
Tetapi batasi diri untuk tidak terlibat terlalu jauh dengan crossline anda
dalam hal mengurus jaringan anda sendiri. Anda harus membedakan antara
crosslining dengan Good Team Player.
Kak saya mau tanya bagaimana bila upline dengan stokist ada masalah .. dan upline memutus hubungan dengan stokist....
BalasHapus. Sebagai mitra harus ikut ke upline atau stokist.?